Hanya yang dari Hati yang akan sampai ke HAti

Archive for November, 2008


sandal jepit istriku

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu. “Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem. “Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak. ******* Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak. Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah… ******** Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. ******* Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf W tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Wida,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Widaku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Widaku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim! “Dhik…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini. “Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku. ****** Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan. Ah, Widaku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

Proses Belajar dalam Penyuluhan

6
Proses Belajar
Dalam Penyuluhan Pertanian

Dalam Bab-2 dikemukakan bahwa dalam banyak kepustakaan, penyuluhan diartikan sebagai proses pendidikan atau proses perubah-an perilaku melalui kegiatan belajar.
Dengan kata lain, proses belajar merupakan kata-kunci dari kegiatan penyuluhan. Penyuluhan tanpa melalui proses belajar, bukanlah penyuluhan.

A. Tujuan Belajar
Sejak manusia dilahirkan ke dunia hingga meninggalnya selalu melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar tersebut, dilakukan baik dengan sengaja (mengikuti program pendidikan sekolah, kursus, dll) maupun tidak sengaja, yang diperolehnya dari pengamatan, perca-kapan, diskusi, tukar-pikiran, dll. Dari proses belajar tersebut, mereka memperoleh pengalaman berupa hasil-belajar, yang seringkali ber-manfaat atau dapat dimanfaatkan dalam kehidup-annya.
Amien (2005) secara sederhana menyatakan bahwa, hakekat pendi-dikan adalah untuk meningkatkan kemampuan manusia agar dapat mempertahankan atau bahkan memperbaiki mutu keberadaannya agar menjadi semakin baik. Pada tataran filosofis, proses belajar merupakan upaya pembangunan manusia seutuhnya atau untuk memanusiakan manusia. Upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk untuk menggali dan mengembangkan keunggulan-keunggulan manu0sia (yang belajar), baik sebagai individu maupun sebagai (anggota) komunitas.
Berkaitan dengan kegiatan belajar tersebut, Kibler, et al (1981) mengemukakan adanya 5 (lima) alasan orang untuk mengikuti kegiat-an belajar, yaitu:

(1) hanya sekadar ingin tahu,
(2) pemenuhan kebutuhan jangka pendek, yang hanya dapat dipenuhi oleh hasil belajarnya
(3) pemenuhan kebutuhan jangka panjang, yang hanya dapat dipenuhi oleh hasil belajarnya
(4) pemenuhan kebutuhan jangka pendek, yang tidak berkaitan langsung dengan hasil belajarnya
(5) pemenuhan kebutuhan jangka panjang, yang tidak berkaitan langsung dengan hasil belajarnya

Oleh sebab itu, tujuan sesorang untuk mengikuti pendidikan, memang selalu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan (terutama kebutuhan jangka pendek) yang hanya dapat dipenuhi oleh hasil belajarnya. Sehingga, proses belajar yang dilakukan oleh individu yang bersang-kutan, akan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan mereka yang hanya sekadar ingin tahu atau memiliki tujuan yang tidak berkaitan langsung dengan hasil belajarnya.
Berbeda dengan pendapat tersebut, Darkenwaldt (1984) juga menya-takan adanya lima macam motivasi yang mendorong seseorang untuk mengikuti program pendidikan, yaitu:

(1) Pelarian diri dari keadaan rutin atau yang mem-buatnya frustasi.
(2) Peningkatan profesionalisme, yaitu kebutuhan hasil belajar yang akan berpengaruh terhadap pengembangan keahlian, karir dan peng-hasilannya.
(3) Tuntutan perbaikan kesejahteraan sosial, baik dalam pengertian ekonomi maupun non ekonomi.
(4) Minat kognitif atau keinginan belajar untuk menambah penge-tahuan.
(5) Berbagai alasan yang dirasakan sebagai tekanan atau paksaan dari luar .

Sedang Singh dan Pal (Dahama dan Bhatnagar, 1980) berhasil mengungkapkan beragam motif keikutsertaan seseorang dalam kegi-atan pendidikan yang mencakup:

(1) Sifat keinovatifan atau keinginan untuk menggali/mencari, menemukan atau menerapkan ide-ide beru maupun yang bersi- fat petualangan.
(2) Keinginan untuk bergabung atau agar dapat diterima oleh warga masyarakat di lingkungannya.
(3) Ingin memperoleh jabatan dan atau kekuasaan.
(4) Perbaikan kesejahteraan (pengetahuan dan ekonomi) bagi diri-nya sendiri maupun demi keluarganya.
(5) Melepaskan diri dari beban (hutang, dll) yang dirasakan.
(6) Kebutuhan untuk memperoleh jaminan hari tua yang lebih baik.
(7) Rasa tanggungjawabnya, baik kepada dirinya sendiri, keluarga-nya, maupun masyarakatnya yang berkaitan dengan program-program nasional.
(8) Keinginan berprestasi atau meningkatkan prestasi atas hasil-hasil yang telah dicapainya.
(9) Kebutuhan aktualisasi diri, untuk menjadi lebih baik atau ter-baik dari orang lain di lingkungannya.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan seseorang untuk belajar ternyata sangat beragam, yaitu:

a) Sebagai jawaban terhadap panggilan hidupnya, untuk melakukan kegiatan belajar seumur-hidup, guna mempertahan-kan dan memperbaiki kehidupannya
b) Untuk menambah pengetahuan, baik sebagai petualangan (seka-dar tahu) maupun untuk dimanfaatkan bagi kehidupan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
c) Sebagai kesadaran untuk berafiliasi atau bergabung dengan sesamanya., dan tujuan-tujuan sosial yang lain
d) Sebagai rasa tanggungjawabnya sebagai warga masyarakat, yang harus berpartisipasi dalam upaya perbaikan kehidupan masyarakatnya.
e) Untuk mencapai prestasi tertentu bagi pengembangan keahlian, karir, dan penghasilannya
f) Untuk memperoleh penghargaan dari lingkungannya, atau setidak-tidaknya diakui sebagai anggota sistem-sosialnya
g) Sebagai aktualisasi dari keberadaannya

B. Prinsip Belajar

Proses belajar, adalah usaha aktif yang dilakukan oleh setiap orang yang mengikuti kegiatan berlajar. Artinya, kegiatan belajar yang dilakukan oleh seseorang tidak mungkin diwakilkan, tetapi harus dilakukan sendiri. Jika tidak, maka hasil-belajar yang berupa penga-laman belajar yang diperoleh, pasti tidak sebaik dibanding dengan mereka yang benar-benar aktif meng-ikuti proses belajar
Bertolak dari pemahaman tersebut maka setiap kegiatan belajar harus memperhatikan pronsip-prinsip belajar, yaitu:

(1) Prinsip Latihan (practice), yaitu proses belajar yang dibarengi dengan latihan), atau aktivitas fisik untuk lebih merangsang kegiatan anggota badan (kaki, tangan, dll). Atau belajar sam-bil melakukan kegiatan yang dialami sendiri oleh warga belajar.
Prinsip latihan, dilandasi oleh pemahaman bahwa hasil belajar akan semakin baik manakala warga belajar memiliki penga-laman praktek, lebih-lebih jika kegiatan itu dilakukan secara berulang-ulang repetition) yang mengendap di dalam piker-annya (retensi) yang semakin banyak. Meskipun demikian, harus pula diingat bahwa kegiatan latihan dan pengulangan kegiatan itu jangan sampai berlebihan sehingga menimbul-kan kejenuhan (over learning) yang justru akan dapat menu-runkan mutu hasil belajar yang dicapai

(2) Prinsip menghubung-hubungkan (association), yaitu proses belajar dengan cara menghubung-hubungkan perilaku lama (terutama sikap dan pengetahuan atau perasaan dan pikir-an) dengan stimulus-stimulus baru.
Dalam proses belajar seperti ini, stimulus (baru) yang memiliki kemiripan dan kaitan erat (berurutan) dengan perilaku yang telah dimiliki, akan semakin mudah diterima dan dipahami. Sebaliknya, stimulus yang tidak memiliki kaitan atau bahkan bertentangan dengan pengalaman yang telah dimiliki akan semakin sulit dipahami dan diterima. Karena itu, selama proses belajar, pengajar atau pelatih harus mampu membantu proses belajar dari warga belajarnya dengan memberikan con-toh-contoh (stimulus) yang memiliki kemiripan dengan peng-alaman-pengalaman yang telah dimiliki sasaran didiknya, atau menyampaikan materi ajarannya dengan memperhatikan urut-an atau sistematika yang baik.

(3) Prinsip akibat (effect)
Seperti telah dikemukakan pada bagian terdahulu, setiap peserta-didik pasti memiliki tujuan (kebutuhan, keingin-an, kemauan, atau harapan-harapan) yang bermanfaat yang ingin dicapai/diperoleh melalui proses belajarnya. Karena itu, hasil belajar yang diharapkan melalui suatu kegi-atan penyuluhan akan semakin baik manakala proses belajar itu akan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi warga belajar-nya, atau memberikan sesuatu yang disenangi atau membuat warga belajar menyenanginya.
Berkaitan dengan itu, dalam setiap program pendidikan, para pendidik harus terlebih dahulu dapat menunjukkan tujuan dan manfaat kepada peserta-didiknya setelah mengikuti program belajar tersebut. Tanpa upaya seperti itu, pendidikan yang dilaksanakan seringkali tidak dapat memberikan hasil seperti yang diinginkannya.
(4) Prinsip kesiapan (readiness)
Telah dikemukakan pula, bahwa hasil belajar akan semakin baik, jika yang bersangkutan (peserta-didik) memang memiliki kesiapan untuk belajar, baik kesiapan fisik maupun mental atau kemauan/keinginan untuk belajar. Oleh sebab itu, setiap kegiat-an pendidikan hanya akan berhasil baik jika pendidik mampu memahami keadaan peserta-didiknya, terutama yang berkaitan dengan keadaan fisik (kenyamanan lingkungan diselenggara-kannya pendidikan, waktu pelaksanaan, lamanya kegiatan, dll) maupun kesiapan sasarannya (kebutuhan, keinginan, hal-hal yang tidak disukai, dll).

C. Penyuluhan Sebagai Proses Pendidikan Orang Dewasa

Di bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa bahwa proses belajar yang seharusnya berlangsung dalam kegiatan penyuluhan adalah proses pendidikan yang diterapkan dalam pendidikan orang dewasa (adult education/ andragogie), yaitu:

1) Proses belajar mengajar yang berlangsung secara lateral/hori-zontal, sebagai proses belajar bersama yang partisipatip di mana semua yang terlibat saling sharing/bertukar informasi, penge-tahuan, dan pengalaman.
Proses sharing tersebut, tidak hanya berlangsung antar peserta penyuluhan, tetapi juga antara penyuluh/fasilitator dengan masya-rakat yang menjadi kliennya.

2) Kedudukan penyuluh tidak berada di atas atau lebih tinggi diban-ding petaninya,melainkan dalam posisi yang sejajar.
Kedudukan sebagai mitra-sejajar tersebut, tidak hanya terletak pada proses sharing selama berlangsunya kegiatan penyuluhan, tetapi harus dimulai dari: sikap pribadi dalam berkomunikasi, tempat duduk, bahasa yang digunakan, sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling mempedulikan karena merasa saling membutuhkan dan memiliki kepentingan bersama.

3) Peran penyuluh bukan sebagai guru yang harus menggurui petani/masyarakatnya, melainkan sebatas sebagai fasilitator yang membantu proses belajar, baik selaku: moderator (pemandu aca-ra), motivator (yang merangsang dan mendorong proses belajar) atau sekadar sebagai nara-sumber manakala terjadi “kebuntuan” dalam proses belajar yang berlangsung.

4) Dalam persiapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, perlu mem-perhatikan karakteristik orang dewasa, yang pada umumnya telah mengalami “kemunduran” indera (penglihatan, pendengaran), dan daya tangkap/penalaran.
Di samping itu, dalam proses belajar juga perlu memperhatikan karakteristik emosional orang dewasa, yang biasanya lebih pera-sa, mudah tersinggung, tidak mau digurui, merasa lebih berpeng-alaman, dll.

5) Materi penyuluhan, harus berangkat dari “kebutuhan yang dirasa-kan” (felt need), terutama menyangkut:
a) kegiatan yang sedang dan akan segera dilakukan
b) masalah yang sedang dan akan dihadapi
c) perubahan-perubahan yang diperlukan/diinginkan

Karena itu, meskipun melalui kegiatan penyuluhan diharapkan terjadi penyampaian “inovasi” (yang berupa: produk, ide, tekno-logi, kebijakan, dll), inovasi yang disam paikan harus yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan yang sedang dirasakan masyarakat..

6) Tempat dan waktu pelaksanaan penyuluhan, sebaiknya juga harus disesuaikan dengan kesepakatan masyarakat tentang waktu dan tempat yang biasa mereka gunakan untuk keperluan-keperluan serupa.
Karena itu, kegiatan penyuluhan tidak boleh menetapkan bakuan tentang waktu dan tempat penyelenggaraannya. Sehingga, penetapan jadwal/waktu dan tempat kegiatan penyuluhan yang dibakukan sebagaimana ditetapkan dalam sistem kerja Latihan dan Kunjungan/Training and Visit (LAKU/TV), hendaknya tidak diterapkan secara rigid/kaku, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan kesepakatan masyara-katnya, yaitu:

7) Tempat penyuluhan tidak harus selalu di hamparan/lahan usahatani dan tidak harus menetap, tetapi dapat berpindah-pindah sesuai dengan materi dan kesempatan yang dimiliki.
Hari dan waktu pertemuan, tidak harus tetap, tetapi yang pen-tig ada kepastian.elang waktu kunjungan tidak harus 2 minggu sekali, tetapi yang penting dilakukan pertemuan (kunjungan) 2 kali dalam sebulan, atau untuk masyarakat Jawa dapat diundur sedikit menjadi 2 kali dalam selapan (35 hari).
8) Keberhasilan proses belajar, tidak diukur dari seberapa banyak terjadi “transfer of knowledge”, tetapi lebih memperhatikan sebe-rapa jauh terjadi dialog (diskusi, sharing) antar peserta kegiatan penyuluhan
Berlangsungnya dialog seperti ini memiliki arti yang sangat pen-ting, kaitannya dengan:

a) penggalian inovasi yang ditawarkan, baik yang ditawarkan dari “luar” maupun “indegenuous technology” yang digali dari pengalaman atau warisan generasi-tua
b) peluang diterima dan keberhasilan inovasi yang ditawarkan
c) berkembangnya partisipasi masyarakat dalam bentuk untuk “merasa memiliki”, keharusan “turut mengamankan” segala keputusan yang telah disepakati (melaksanakan, monitoring, dll)

Berkaitan proses belajar yang berlangsung dalam kegiatan penyu-luhan, perlu juga diperhatikan pentingnya:

1) Proses belajar yang tidak harus melalui sistem sekolah, yang memungkinkan semua peserta dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ”belajar bersama”

2) Tumbuh dan berkembangnya semangat belajar seumur hidup, dalam arti pentingnya rangsangan, dorongan, dukungan, dan pen-dampingan terus menerus secara berkelanjutan.

3) Tempat dan waktu penyuluhan, harus disepakati terlebih dahulu dengan (calon) peserta kegiatan, dengan lebih memperhatikan kepentingan/kesediaan mereka. Pemilihan waktu dan tempat penyuluhan tidak boleh ditetapkan sendiri oleh penyuluh/fasili-tatornya menurut keinginan dan waktu yang dapat disediakannya.

4) Tersedianya perlengkapan penyuluhan (alat bantu dan alat peraga terutama yang berkaitan dengan: penglihatan/ pencahayaan, dan pendengaran).
Perlengkapan yang disediakan, sebaiknya berupa alat bantu dan alat peraga berupa contoh riil yang dapat disediakan dan dapat digunakan sesuai dengan kondisi setempat.

5) Materi ajaran tidak harus bersumber dari texbook, tetapi dapat dari media-masa seperti: koran, tabloid, majalah, laporan-laporan, radio, televisi, pertunjukan kesenian, perjalanan, dll termasuk ceritera rakyat maupun pesan-pesan generasi-tua (para pendahulu), maupun pengalaman-kerja dan pengalaman-kehidupan sehari-hari.

6) Materi ajaran tidak harus baru (up to date), tetapi dapat juga berupa cerita-kuno, atau praktek-praktek lama yang sebenarnya sudah pernah dilakukan tetapi telah lama ditinggalkan.

7) Sumber bahan-ajar, tidak harus berasal dari orang-orang pintar, tokoh masyarakat, atau pejabat, melainkan dari siapa saja (ter-masuk pihak-pihak yang sering direndahkan).
8) Pengembangan kebiasaan untuk bersama-sama mengkaji atau “mengkritisi” setiap inovasi (dari manapun sumbernya), kaitannya dengan peluang dan ancaman, manfaat/ keuntungan yang akan diharapkan dan korbanan/resiko yang akan ditanggung, serta tingkat kesesuaiannya dengan: keadaan alam/fisik, kemampuan ekonomi, daya-nalar, agama, adat, kepercayaan, dan norma-kehi-dupan masyarakat setempat.

9) Kehadiran fasilitator atau nara-sumber, tidak selalu harus diterima sebagai “penentu”, tetapi cukup sebagai pemberi pertimbangan.
Bagaimanapun, keputusan sangat tergantung kepada masing-msing individu dan atau kesepakatan masyarakat setempat.

D. Jenis-jenis Belajar
Untuk mencapai efektivitas bekajar yang optimal, terdapat beragam jenis belajar yang dapat diacu atau dipraktekkan, baik oleh pendidik maupun peserta didik, yaitu:

(1) Mulultiple discrimination, yaitu kemampuan untuk respon yang benar terhadap beragam stimulus yang berbeda. Pada tahapan ini, individu yang bersangkutan harus mampu mema-hami dan membeda-bedakan beragam stimulus yang berbeda serta mampu memberikan respons yang tepat (benar) kepada masing-masing stimulus (obyek) yang berbeda tadi.
Contoh: Jika seorang petani menghadapi tanaman yang laui, dia harus mampu mengidentifikasi sebab-sebab kelayuannya (keku-rangan air, salah pemupukan, serangan hama/penyakit, dlll), dan memberikan respon yang tepat untuk mengatasi kelayuan tersebut.

(2) Belajar konsep (concept learning), yaitu mengabstraksikan ide atau realitas dalam pikirannya, dan berdasarkan konsep yang disusun-nya itu, yang bersangkutan akan memberikan respon yang tepat menurut konsep yang diketahuinya.
Sehubungan dengan hal ini proses belajar merupakan kegiat-an untuk mempelajari senamuyak mungkin konsep-konsep yang terdapat di dalam khasanah dunia ilmu pengetahuan. Semakin luas dan mendalam pemahaman seseorang tentang konsep realita yang dihadapi, akan semakin mampu memberikan respon yang tepat. Di dalam belajar konsep seperti itu, dapat digunakan metoda deduktif (menyusun konsep khusus/konkrit atas dasar gejala umum) atau metoda induktif, (menyusun konsep umum atas dasar keadaan konkrit atau gejala khusus yang dihadapinya).

Contoh: Jika seorang petani menghadapi tanaman yang layu, dia akan berusaha mencari air (karena pada umumnya tanaman layu disebabkan karena kekurangan air).
Di lain pihak, jika petani melihat tanaman yang dipupuk dengan menggunakan pupuk Urea menjadi bertambah subur, dia akan selalu menggunakan pupuk Urea untuk menyuburkantanaman-tanaman yang lain.

(3) Belajar prinsip (principal learning), yaitu mempelajari hubung-an konsep-konsep yang memiliki arti tertentu menurut aturan tertentu. Dengan kata lain, belajar prinsip adalah mempela-jari beragam prinsip atau rangkaian konsep yang memiliki arti tertentu.
Contoh: jika seorang petani menghadapi tanaman yang layu, dan menurut konsep yang dipahaminya disebabkan oleh serangan penyakit, maka dia harus mempelajari prinsip-prinsip perlin-dungan tanaman menggunakan fungisida yang benar, missal-nya: jenis fungisida yang digunakan, dosis fungisida, cara pela-rutan fungisida, alat yang digunakan, cara penyempprotan, waktu penyemprotan, selang waktu penyemprotan, dll.

(4) Belajar memecahkaan masalah (problem solving learn-ing), yaitu mempelajari cara-cara memecahkan masalah yang dihadapi. Jika ternyata masalahnya tidak dapat terpecahkan melalui penerapan prinsip-prinsip tertentu, harus mencari prin-sip-prinsip lainnya (yang sudah diketahui) atau bahkan harus mencari prinsip-prinsip lainnya yang baru (yang belum dike-tahuinya).
Contoh: jika petani menghadapi serangan hama tikus, dia dapat memberantasnya dengan cara gropyokan (mekanis). Tetapi jika cara ini belum efektif, dia harus mencoba cara-cara pembe-rantasan lain (pemasangan umpan, pengasapan lobangnya, dll). Dengan kata lain, pada “belajar memecahkan masalah” ini, setiap individu harus terlebih dahulu: mampu mengidentifikasi setiap ragam stimulus yang berbeda, memahami beragam konsep, memahami beragam prinsip, bahkan harus pula memahami beragam cara pemecahan terhadap masalah tertentu.

(5) Belajar Partisipatif, yaitu suatu proses belajar bersama yang dilakukan sekelompok individu dengan atau tanpa difasilitasi oleh orang-luar, di mana sesama peserta-didik saling berinteraksi, saling membantu, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta saling memperhatikan (helping, sharing and caring).
Jenis belajar seperti ini, bertujuan untuk menumbuh-kembangkan partisipasi aktif semua peserta-didik agar memiliki pengalaman dan pemahamam yg sama tentang pokok-bahasan. Keuntungan jenis belajar seperti ini adalah; semua peserta-ajar memperoleh pengakuan dan kesempatan yang samauntuk mengemukakan pendapat, pertanyaan, dan pengelaman masing-masing. Sedang kelemahannya adalah; baik peserta mau-pun fasilitator seringkali tidak siap (mental) untuk mensejajarkan diri dengan yang lain, terutama di kalangan “elite”.

Jenis belajar partisipartif, diselenggarakan dengan berpegang pada prinsip-prinsip: berdasarkan kebutuhan peserta-didik, untuk memecahan masalah, memberikan manfaat, partisipatip, kesuka-relaan, kebersamaan, keswadayaan, keterbukaan, desentralisasi, bertanggung-gugat.
Sedang metoda yang diterapkan adalah: tidak vertikal (menggurui) tetapi lebih bersifat lateral (partisipatip). Keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak terjadi transfer pengetahuan/pengalaman, tetapi sebera-pa jauh berlangsung dialog antar peserta dan antara peserta dengan fasilitator
Contoh; curah-pendapat tanya-jawab, diskusi, focus group discussion, bermain peran, studi-kasus tugas kelompok, tugas mandiri. Dalam hubungan ini, peran fasilitator tidak boleh menggurui tetapi lebih bersifat membantu proses belajar agar saling membantu, berbagi dan memperhatikan (helping, sharing & caring)

(6) Belajar penelusuran dan penemuan (inquiry and discovery learning), yaitu kegiatan belajar yang dirancang sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk menemukan (discovery) akar-masalah, dalam rangka memecahkan masalah melalui serang-kaian aktivitas penyelidikan (inquiry). Jenis belajar ini bertujuan untuk:

(a) mengidentifikasi hubungan-hubungan yang ada di antara fakta-fakta, konsep-konsep dan ide-ide dasar yang telah diidentifikasi sebelumnya

(b) mengembangkan kemampuan berpikir melalui serangkaian kegiatan-kegiatan yang meliputi:

 mengidentifikasi fakta-fakta, konsep-konsep, dan de-ide dasar yang terkait dengan masalah
 mengidentifikasi hubungan-hubungan yang ada di antara fakta-fakta, konsep-konsep dan ide-ide dasar yang telah diidentifikasi sebelumnya

Kegiatan tersebut, diramu dalam tahapan-tahap-an:

Tahap I : menstimulasi kegiatan berpikir analitis kritis;
Tahap II : menstimulasi kemampuan mensinte mensintesis
hasil berpikir analitis, dan sintesis
Tahap III : memverifikasi hipotesis atau kebijakan sosial yang
diajukan
Tahap IV : pengambilan keputusan

(7) Belajar Kuantum (Quantum Learning),
Belajar quantum, adalah suatu jenis belajar dengan mengoptimal-kan (melalui sinergi) semua sumberdaya pendidikan yang terdiri dari: pendidik (fasilitator), peserta-didik (penerima manfaat), perlengkapan pendidikan (instrument input), dan kondisi lingkungan (environment input). Termasuk dalam “keadaan lingkungan”, adalah nilai-nilai sosial-budaya dan waktu yang tersedia.

(8) Belajar kontekstual kolaboratif (Contextual Collaborative Learning)

Contextual learning merupakan konsep yang mengkaitkan antara materi belajar dengan dunia peserta-didik dan mendorongnya untuk membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerap-annya dalam kehidupan sehari-hari; sedang kolaborasi dapat pula dipandang sebagai suatu interaksi sosial yang mengkombinasikan antara tujuan yang telah disepakati dan pendistribusian penge-tahuan dalam suatu kelompok
Bertolak dari pemahaman tersebut, maka yang disebut dengan Contextual Collaborative learning adalah; suatu pendekatan belajar yang mengkaitkan materi belajar dengan dunia siswa melalui interaksi sosial dalam suatu kelompok Contextual Collaborative Learning, bertujuan untuk membekali pembelajar dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat ditransfer dari satu konteks ke konteks lainnya melalui interaksi sosial, sehingga pembelajar mampu menjelaskan konsep, gagasan dan pikirannya dalam suatu kelompok untuk menyelesai-kan suatu pekerjaan

Kekuatan pendekatan Contextual Collaborative Learning adalah:
(a) Pebelajar dapat belajar mengunakan proses kolaborasi secara efektif dan alami
(b) Pebelajar akan terampil dalam berfikir kritis memecahkan perma-salahan yang kontektual
(c) Memperkaya kontek sosial dan perspektif ganda dalam belajar
(d) Lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, terpadu, dan kola-boratif
(e) Siswa mendapatkan pengalaman belajar yang orisinil
(f) Mengolah semangat, menghormati antar siswa, sebagaimana meng-hormati antara siswa dengan guru
(g) Mengembangkan keinginan dan menopang belajar sepanjang hayat. seseorang.

Sedang kelemahan Contextual Collaborative learning, meliputi:

(a) Tidak semua pengetahuan dan masalah itu
(b) kontextual ada yang abstrak dan ada yang kontekstual
(c) Sangat membutuhkan petunjuk aturan pelaksanaan kolaborasi dalam kelompok
(d) Sangat membutuhkan keberadaan para ahli yang
(e) menguasai permasalahan secara komprehensif

Karena itu, implementasi dari jenis belajar ini perlu memperhati-kan;

(a) berkolaborasi dengan instruktur untuk memperoleh sumber tambah-an yang dibutuhkan
(b) membuat laporan sementara dalam memecahkan permasalah-an
(c) melakukan sintesa dan refleksi proses belajar secara kelom-pok dan individual
(d) melakukan penilaian terhadap produk dan proses
(e) merumuskan solusi pemecahan masalah dan
(f) mengakhiri kegiatan

(9) Pembelajaran SCL (student centered learning)

SCL adalah pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar peserta-didik (penerima manfaat), bukan hanya pada aktivitas mengajar.
Situasi pembelajaran dalam SCL di antaranya bercirikan:

(a) Peserta-didik, belajar baik secara individu maupun berkelom-pok untuk membangun pengetahuan, dengan cara mencari dan menggali sendiri informasi dan teknologi yang dibutuh-kannya secara aktif daripada sekedar menjadi penerima pengetahuan secara pasif.

(b) Pendidik lebih berperan sebagai fasilitator dan guides on the sides daripada sebagai mentor in the center, yaitu membantu peserta-didik (penerima manfaat), mengakses informasi, menata dan mentransfernya guna menemukan solusi terhadap permasalahan nyata sehari-hari, daripada sekedar sebagai gatekeeper of information.

(c) peserta-didik (penerima manfaat), tidak sekedar kompeten dalam bidang ilmunya, tetapi juga kompeten dalam belajar. Artinya, peserta-didik (penerima manfaat) tidak hanya menguasai isi mata penyuluhannya tetapi mereka juga belajar tentang bagaimana belajar (learn how to learn), melalui discovery, inquiry, dan problem solving, dan terjadi pengem-bangan.

(d) Belajar menjadi kegiatan komunitas yang difasilitasi oleh penyuluh/fasilitator, yang mampu mengelola pembelajaran-nya menjadi berorientasi pada peserta-didik (penerima manfaat),

(e) Belajar lebih dimaknai sebagai belajar sepanjang hayat (learning throughout of life), suatu keterampilan yang dibu-tuhkan dalam dunia kerja.

Belajar termasuk memanfaatkan teknologi yang tersedia, baik berfungsi sebagai sumber informasi pembelajaran maupun sebagai alat untuk memberdayakan peserta-didik (penerima manfaat) dalam mencapai keterampilan utuh (intelektual, emosional, dan psikomotor) yang dibutuhkan. SCL diperlukan dengan alasan untuk mengantisipasi dan mengakomodasi perubahan dalam bidang sosial, politik, ekonomi, teknologi dan lingkungan, yang menyebabkan informasi dalam buku teks dan artikel-artikel yang ditulis lebih cepat kadaluarsa.

Di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang berpendidikan baik, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mam-pu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Oleh sebab itu, proses pem-belajaran harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan peserta-didik (penerima manfaat), dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. peserta-didik (penerima manfaat), sebagai subyek pembelajaran, yang perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait.
Terdapat beragam metode pembelajaran untuk SCL, di antaranya adalah:

a. Small Group Discussion
Diskusi adalah salah satu elemen belajar secara aktif dan meru-pakan bagian dari banyak model pembelajaran SCL yang lain, seperti CL, CbL, PBL, dan lain-lain. Peserta-didik (penerima manfaat), diminta membuat kelompok kecil (5 sampai 10 orang) untuk mendiskusikan bahan yang diberikan oleh penyuluh/ fasilitator atau bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.
Dengan aktivitas kelompok kecil, peserta-didik (penerima manfaat) akan belajar:

1) Menjadi pendengar yang baik
2) Bekerjasama untuk tugas bersama
3) Memberikan dan menerima umpan balik yang konstruktif
4) Menghormati perbedaan pendapat
5) Mendukung pendapat dengan bukti
6) Menghargai sudut pandang yang bervariasi (gender, budaya, dan lain-lain)

Aktivitas diskusi kelompok kecil dapat berupa:

1) Membangkitkan ide
2) Menyimpulkan poin penting
3) Mengakses tingkat skill dan pengetahuan
4) Mengkaji kembali topik di kelas sebelumnya
5) Menelaah latihan, quiz, tugas menulis
6) Memproses outcome pembelajaran pada akhir kelas
7) Memberi komentar tentang jalannya kelas 8) Membandingkan teori, isu, dan interpretasi
9) Menyelesaikan masalah

b. Role-Play & Simulation
Simulasi adalah model yang membawa situasi yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya untuk pokok-bahasan manajemen usahatani, peserta-didik (penerima manfaat) diminta membuat perusahaan fiktif yang bergerak di bidang agribisnis, kemudian perusahaan tersebut diminta melakukan hal yang sebagaimana dilakukan oleh perusahaan sesungguhnya dalam memberikan jasa kepada kliennya, misalnya melakukan proses bidding, dan seba-gainya. Simulasi dapat berbentuk:

1) Permainan peran (role playing). Dalam contoh di atas, setiap peserta-didik (penerima manfaat) dapat diberi peran masing-masing, misalnya sebagai direktur, engineer, bagian pemasaran dan lain-lain
2) Simulation exercices and simulation games
3) Model komputer

Simulasi dapat mengubah cara pandang (mindset) peserta-didik (penerima manfaat), dengan jalan:

1) Mempraktekkan kemampuan umum (misal komunikasi verbal & nonverbal)
2) Mempraktekkan kemampuan khusus
3) Mempraktekkan kemampuan tim
4) Mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah (problem-solving)
5) Menggunakan kemampuan sintesis
6) Mengembangkan kemampuan empati

c. Discovery Learning (DL)
DL adalah metode belajar yang difokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan penyuluh/fasilitator maupun yang dicari sendiri oleh peserta-didik (penerima manfaat), untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar mandiri.

d. Self-Directed Learning (SDL)
SDL adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu peserta-didik (penerima manfaat) sendiri. Dalam hal ini, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Sementara penyuluh/fasilitator hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan, dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu peserta-didik (penerima manfaat) tersebut.
Metode belajar ini bermanfaat untuk menyadar-kan dan member-dayakan peserta-didik (penerima manfaat), bahwa belajar adalah tanggungjawab mereka sendiri. Dengan kata lain, individu peserta-didik (penerima manfaat) didorong untuk bertanggung-jawab terha-dap semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya.
Metode pembelajaran SDL dapat diterapkan apabila asumsi berikut sudah terpenuhi. Sebagai orang dewasa, kemampuan peserta-didik (penerima manfaat) semesti-nya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri.

1) Pengalaman merupakan sumber belajar yang sangat berman-faat.
2) Kesiapan belajar merupakan tahap awal menjadi pembelajar mandiri.
3) Orang dewasa lebih tertarik belajar dari permasalahan dari pada dari isi matapenyuluhan

Pengakuan, penghargaan, dan dukungan terhadap proses belajar orang dewasa perlu diciptakan dalam lingkungan belajar. Dalam hal ini, penyuluh/fasilitator dan peserta-didik (penerima manfaat) harus memiliki semangat yang saling melengkapi dalam melakukan pen-carian pengetahuan

e. Cooperative Learning (CL)
CL adalah metode belajar berkelompok yang dirancang oleh penyuluh/fasilitator untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri atas beberapa orang maha-siswa, yang memiliki kemampuan akademik yang beragam.
Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh penyuluh/ fasilitator. Peserta-didik (penerima manfaat) dalam hal ini hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh penyuluh/fasilitator. Pada dasarnya CL seperti ini merupakan perpaduan antara teacher-centered dan student-centered learning. CL bermanfaat untuk membantu menumbuh-kan dan mengasah:

1) kebiasaan belajar aktif pada diri peserta-didik (penerima manfaat)
2) rasa tanggungjawab individu dan kelompok peserta-didik (penerima manfaat)
3) kemampuan dan keterampilan bekerjasama antar peserta-didik (penerima manfaat)
4) keterampilan sosial peserta-didik (penerima manfaat).
f. Cooperative Learning (CL)

CL adalah metode belajar berkelompok yang dirancang oleh penyuluh/fasilitator untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri atas beberapa orang maha-siswa, yang memiliki kemampuan akademik yang beragam.
Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh penyuluh/ fasilitator. Peserta-didik (penerima manfaat) dalam hal ini hanya mengikuti prosedur diskusi yang dirancang oleh penyuluh/fasilitator. Pada dasarnya CL seperti ini merupakan perpaduan antara teacher-centered dan student-centered learning. CL bermanfaat untuk mem-bantu menumbuh-kan dan mengasah:

1) kebiasaan belajar aktif pada diri peserta-didik (penerima manfaat)
2) rasa tanggungjawab individu dan kelompok peserta-didik (penerima manfaat)
3) kemampuan dan keterampilan bekerjasama antar peserta-didik (penerima manfaat)
4) keterampilan sosial peserta-didik (penerima manfaat).

f) Collaborative Learning (CbL)
CbL adalah metode belajar yang menitikberatkan pada kerjasama antar peserta-didik (penerima manfaat) yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus memang berasal dari penyuluh/fasilitator dan bersifat open ended, tetapi pembentukan kelompok yang didasarkan pada minat, prosedur kerja kelompok, penentuan waktu dan tempat diskusi/kerja kelompok, sampai dengan bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh penyuluh/ fasilitator, semuanya ditentukan melalui konsensus bersama antar anggota kelompok.

g) Contextual Instruction (CI)
CI adalah konsep belajar yang membantu penyuluh/fasilitator mengaitkan isi matapenyuluhan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi peserta-didik (penerima manfaat) untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja profesional atau manajerial, entrepreneur, maupun investor.
Sebagai contoh, apabila kompetensi yang dituntut matapenyuluhan adalah peserta-didik (penerima manfaat) dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses transaksi jual beli, maka dalam pembelajarannya, selain konsep transaksi ini dibahas dalam kelas, juga diberikan contoh, dan mendis-kusikannya. Peserta-didik (penerima manfaat) juga diberi tugas dan kesempatan untuk terjun langsung di pusat-pusat perda-gangan untuk mengamati secara langsung proses transaksi jual beli tersebut, atau bahkan terlibat langsung sebagai salah satu pelakunya, sebagai pembeli, misalnya.

Pada saat itu, peserta-didik (penerima manfaat) dapat melakukan peng-amatan langsung, mengkajinya dengan berbagai teori yang ada, sampai ia dapat menganalis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya proses transaksi jual beli. Hasil keter-libatan, pengamatan dan kajiannya ini selan-jutnya dipresentasikan di dalam kelas, untuk dibahas dan menampung saran dan masukan lain dari seluruh anggota kelas.

Pada intinya dengan CI, penyuluh/fasilitator dan peserta-didik (penerima manfaat) memanfaatkan pengetahuan secara bersama-sama, untuk mencapai kompetensi yang dituntut oleh materi penyuluhan, serta memberikan kesempatan pada semua orang yang terlibat dalam pem-belajaran untuk belajar satu sama lain.

h) Project Based Learning (PjBL)
PjBL adalah metode belajar yang sistematis, yang melibatkan maha-siswa dalam belajar pengetahuan dan keterampilan melalui proses pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati.

(i) Problem Based Learning and Inquiry (PBL)
PBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan peserta-didik (penerima manfaat) harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut.
Pada umumnya, terdapat empat langkah yang perlu dilakukan maha-siswa dalam PBL/I, yaitu:

1) Menerima masalah yang relevan dengan salah satu/beberapa kompetensi yang dituntut matapenyuluhan, dari penyuluh/fasili-tatornya.
2) Melakukan pencarian data dan informasi yang relevan untuk memecahkan masalah
3) Menata data dan mengaitkan data dengan masalah
4) Menganalis strategi pemecahan masalah

E. Penentu Keberhasilan Belajar

Klausmeir dan Gwin (1966) mengemukakan beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar yang meliputi: (1) umur individu, (2) bakat, (3) kapasitas belajar, (4) tujuan belajar, (5) tingkat aspirasi, (6) pengertian tentang hal yang (akan) dipelajari, dan (7) pengetahuan tentang keberhasilan dan kegagalan.
Selain iti, Kibler, et al (1981) mengemukakan bahwa faktor strategis yang menentukan keberhasilan belajar adalah motivasi belajar atau motivasi mengikuti proses belajar. Pendapat itu, diperkuat oleh hasil penelitian Mardikanto (1985) terhadap kegiatan belajar dalam pelatihan ketrampilan-kerja.
Labih lanjut, telaahan terhadap ssistem pendidikan, dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar dan lingkungan asal peserta-didik juga sangat menentukan keberhasilan belajar (Jiyono, 1980). Ternasuk dalam lingkungan-asal, antara lain mencakup pendidikan dan penghasilan orang-tua.

sumber> Totok Mardikanto, Redefinisi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian