Hanya yang dari Hati yang akan sampai ke HAti

Archive for September, 2007


Para Pencari Tuhan

Sudah sepuluh hari Ramadhan 1428 H berlalu dan selama 10 hari ini aku terpaksa menelan bulat-bulat acara sahur yg ditayangkan oleh stasiun2 TV di Indonesia. Nyaris semua stasiun TV menayangkan acara sahur yg serupa, yakni berupa acara humor-humor konyol yg tidak berarti dan membuat mual kami berdua.

Apa pasal?

Karena pola tingkah yg dilakukan para artis dalam tayangan tersebut hanyalah mengumbar tawa semata, tidak peduli caranya. Berpakaian ala perempuan, saling ejek dengan kata2 kasar adalah sebagian pola yg dilakukan para artis tersebut demi menarik tawa para penonton. Jika memang cukup lucu (dan cara penyampaiannya cukup lucu) masih bisa membuat kami berdua tersenyum simpul. Namun jika sudah saling lontar kata2 umpatan dan aksi-aksi tidak sopan, terus terang aku muak melihatnya.

Belum lagi acara kuisnya, yg masih menyerempet (bahkan jika menurutku) sudah masuk ke kategori judi. Penyebabnya jelas, kita mesti mengirim sms (yg harganya mahal) untuk mendaftar menjadi peserta (dan mendapat no pin). Kemudian si pembawa acara mengundi no pin, disuguhi pertanyaan ‘bodoh’ dan akhirnya mendapat hadiah yg cukup mewah.

Sebenarnya, tindakan ini (undian SMS) sudah termasuk kategori judi. Bahkan fatwa sudah dimaklumatkan oleh MUI mengenai undian SMS ini, yg menyatakan bahwa undian ini termasuk judi dan mengharamkannya. Namun, sayangnya fatwa ini dianggap angin lalu saja oleh para penyelenggara undian dan peserta, termasuk juga oleh pemerintah dan operator (penyelenggara jasa telekomunikasi). Mereka masih asyik membuat acara kuis yg menyedot sms dari para penonton bernilai miliaran rupiah dan hanya mengeluarkan sejumlah kecil uang sebagai hadiah.

Tayangan televisi acara sahur ini menambah daftar jenis tayangan televisi yg tidak bermutu. Bahkan lebih parah, karena di bulan Ramadhan pun, umat Islam masih tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk menikmati tayangan yg lebih mendukung suasana dan acara sahur yg dilakukan.

Tentu saja tidak semua acara televisi yg ditayangkan di saat sahur ini buruk. Setidaknya, ada 2 stasiun tv yg menayangkan acara cukup bagus, yakni Metro TV menayangkan Tafsir Al Mishbah (yg sayangnya hanya 30 menit dan dilanjutkan acara dagelan dari Republik Mimpi) serta acara SCTV berupa sinetron “Para Pencari Tuhan”.

Akhirnya, yaaa…kami berdua hanya memilih acara SCTV sebagai teman sahur kami, karena sinetron tersebut mempunyai nilai lebih dibandingkan acara2 di stasiun tv lain pada saat yg bersamaan.

Sementara untuk acara menjelang berbuka, masih standar. Yakni kultum (kuliah tujuh menit) dari sekian banyak ustadz dan ulama untuk mengisi relung rohani para penonton. Ok, aku akui untuk tayangan menjelang berbuka masih lebih ‘beradab’ dibandingkan acara sahur.

Harapanku simple saja, semoga di Ramadhan tahun mendatang, acara2 televisi terutama di saat sahur dan menjelang berbuka lebih baik.

Metode Penyuluhan

PEMILIHAN METODE PENYULUHAN PERTANIAN

Alasan Pemilihan

Kemampuan seseorang untuk mempelajari sesuatu berbeda-beda, demikian juga tahap perkembangan mental, keadaan lingkungan dan kesempatannya berbeda-beda, sehingga perlu ditetapkan suatu metode penyuluhan pertanian yang berdaya guna dan berhasil guna. Tahap perkembangan mental seseorang dapat digolongkan dalam tahap penumbuhan pertanian, tahap penumbuhan minat, tahap menilai, tahap mencoba dan tahap menerapkan.

Tujuan Pemilihan

            Meningkatkan efektifitas penyuluhan pertanian dengan pemilihan metode yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasarannya.

Dasar-Dasar Pertimbangan Pemilihan

            Pertimbangan yang digunakan dapat digolongkan menjadi empat yaitu sasaran, sumberdaya, keadaan daerah, dan kebijaksanaan pemerintah.

Sasaran

            Yang harus diperhatikan penyuluh dari segi sasaran antara lain:

a. 

Tingkat pengetahuan, ketrampilan dan sikap sasaran

Tahap penerapan dari petani di suatu daerah bermacam-macam, demikian juga kecepatan, keterampilan dan sikap yang telah mereka miliki. Penyuluh harus mengetahui dalam tahap mana sebagian besar dari sasaran itu berada. Setelah itu harus menghubungkannya dengan tujuan yang akan dicapai. Hal ini penting untuk dapat menentukan metode mana yang paling tepat.

b.      

Sosial budaya

Penyuluh harus mengetahui adat kebiasaan sasaran, norma-norma yang berlaku dan status kepemimpinan yang ada. Hal ini penting bukan saja dalam pemilihan metode penyuluhan tetapi juga dalam menentukan teknik-teknik penyuluhannya. Contoh: ada suatu daerah yang melarang melakukan pemutaran film pada malam Jumat.

c.      Banyaknya sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penyuluh pada suatu waktu tertentu akan menentukan metode penyuluhan pertanian yang akan dicapai.

Sumberdaya Penyuluhan

            Yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini antara lain:

a.      Kemampuan penyuluh

      Pengalaman dan kemampuan penyuluh yang meliputi penguasaan ilmu dan

      keterampilan serta sikap yang dimilikinya perlu dipertimbangkan.

b.      Materi penyuluhan

      Dalam menerapkan suatu metode penyuluhan perlu diperhatikan materi yang akan disampaikan. Untuk yang bersifat teknis biasanya dipilih metode yang memungkinkan adanya praktek di lapangan dan untuk materi yang bersifat non teknis, misalnya agar petani mau berkelompok dan mau memasarkan hasil usahanya, biasanya dipilih metode diskusi kelompok.

c.      Sarana dan biaya penyuluhan

      Keadaan peralatan alat-alat bantu pengajaran yang dipunyai, fasilitas yang ada serta biaya yang tersedia akan menentukan dalam pemilihan metode penyuluhan.

Contoh :

1)      Seandainya disuatu daerah belum ada listrik dan bahkan letaknya sukar untuk dicapai, maka daerah tersebut sulit untuk diadakan penyuluhan melalui pemutaran film walaupun biasanya cara ini bisa memberikan hasil  yang efektif.

2)      Karena keterbatasan biaya maka penyuluh pertanian akan memilih metode diskusi kelompok daripada kursus tani, yang pada pelaksanaannya akan membutuhkan biaya yang relatif besar.

Keadaan Daerah

Dalam pemilihan metode penyuluhan para penyuluh perlu mempertimbangkan kondisi daerah pelaksanaan penyuluhan, antara lain:

a. Musim

Pada musim kemarau tiap daerah berbeda-beda keadannya, ada yang panas sekali, ada yang tidak terlalu panas, ada daerah yang tidak bisa ditanami apa–apa, sebaliknya ada juga daerah yang justru pada musim kemarau akan lebih menguntungkan jika digunakan sebagai tempat usaha tani.

Apabila  pada suatu keadaan tertentu tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya suatu proses produksi maka tentu tidak akan diadakan penyuluhan di tempat usaha tani seperti demonstrasi, sehingga dalam hal ini akan lebih memungkinkan untuk diadakan pertemuan di rumah petani.

b.  Keaadaan Usaha Tani

Musim sangat erat hubungannya dengan kedaan usaha tani, maka keadaan usaha tani suatu daerah turut mempengaruhi pemilihan metode penyuluhan. Misalnya untuk mengintensifkan ternak unggas disuatu daerah maka dipilih metode demonstrasi, sedangkan untuk tujuan introduksi diterapkan metode karya wisata ke tempat lain.

c.   Keadaan Lapangan

Keadaan lapangan seperti topografi, jenis tanah, sistem pengairan serta sarana perlu juga dipertimbangkan. Contoh: untuk perkampungan yang letaknya terpisah-pisah maka kegiatan penyuluhannya akan lebih efektif dilakukan di tempat tinggal petani atau di lahan usaha taninya.

Kebijaksanaan Pemerintah

            Kebijaksanaan pemerintah yang berasal dari pusat atau daerah kadang-kadang menentukan dalam pemilihan metode penyuluhan. Pendekatan intensifikasi secara massal dan crash program memerlukan waktu yanmg relatif cepat daripada pendekatan perorangan yang pada dasarnya akan membutuhkan waktu relatif  lebih lama.

 

Langkah-Langkah Pemilihan

Menghimpun dan Menganalisa data

a. 

Sasaran

1)  Golongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah masing-masing      golongan dan keseluruhan.

2)  Adat kebiasaan, norma-norma dan pola kepemimpinan.

3)  Bentuk-bentuk usaha tani sasaran.

4)  Kesediaan mereka sebagai demonstrator dan jumlah petani maju.

b. 

Penyuluh dan kelengkapannya

1)  Kemampuan penyuluh, jumlah penyuluh, pengetahuan dan keterampilan penyuluh.

2)  Materi penyuluhan/pesan.

3)  Sarana dan prasarana penyuluhan.

4)  Biaya yang ada.

c.   Keadaan daerah dan kebijaksanaan pemerintah

1)  Musim/iklim.

2)  Keadaan lapangan (topografi), jenis tanah, sistem pengairan dan      pertanaman

3)  Perhubungan jalan, listrik dan telepon

4)  Kebijaksanaan pemerintah pusat, daerah dan setempat.

Kegiatan selanjutnya adalah menetapkan sasaran dengan menganalisa dari sebagaian besar data dasar tersebut. Apabila tahap penerapan sasaran sudah disiapkan dalam rangka penyusunan programa maka langkah berikutnya adalah mencoba menetapkan alternatif metode penyuluhan.

Menetapkan Alternatif Metode Penyuluhan Pertanian

            Pemilihan metode penyuluhan pertanian secara umum adalah sebagai berikut:

a.   Metode–metode dengan pendekatan massal dipergunakan untuk menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan serta memberikan informasi selanjutnya.

b.   Metode-metode dengan pendekatan kelompok biasanya dipergunakan untuk dapat memberikan informasi yang lebih rinci tentang suatu teknologi. Metode tersebut ditujukan untuk dapat membantu seseorang dari tahap menginginkan ke tahap mencoba atau bahkan sampai tahap menerapkan.

c.   Metode-metode dengan pendekatan perorangan, biasanya sangat berguna dalam tahap mencoba hingga menerapkan, karena adanya hubungan tatap muka antara penyuluh dan sasaran yang lebih akrab. Di sini perlu diperhatikan oleh penyuluh, bahwa metode pendekatan perorangan itu dilakukan apabila sasaran sudah hampir sampai ke tahap mencoba dan bersedia mencoba yang tentunya memerlukan bimbingan untuk memantapkan keputusannya.

d.      Faktor lain yang memegang peranan dalam pemilihan metode adalah masa kerja penyuluh di suatu tempat. Penyuluh yang belum lama bekerja di suatu daerah perlu mengenal situasi dan kondisi daerah kerjanya. Dalam taraf permulaan ini metode penyuluhan yang terbaik adaah pendekatan perorangan. Apabila kemampuannya dalam pengenalan sasaran dan keadaan sudah ia miliki, maka metode penyuluhan yang efektif dalam menjangkau sasaran yang lebih besar adalah pendekatan kelompok atau massal.

Menetapkan Metode Penyuluhan Pertanian

Setelah penyuluh pertanian menetapkan alternatif metode penyuluhan, barulah ia pikirkan dengan matang-matang apakah metode-metode itu dapat dilaksanakan dan cocok dengan lapangan dan sasaran

Bagi penyuluh pertanian yang sudah lama atau sudah berpengalaman di daerah itu, tentu tahapan ini akan mudah baginya dan langsung dapat memilih metode yang cocok. Dalam melaksanakan demonstrasi misalnya ia harus menentukan lokasi demonstrasi dan siapa diantara sasaran yang bersedia menjadi demonstratornya.

Dalam mencapai suatu tujuan perlu dilaksanakan pemecahannya dengan kombinasi metode tertentu. Pertimbangan-pertimbangan tentang musim, keadaan usaha tani, permasalahan di lapangan, fasilitas, sasaran penyuluhan yang telah dikemukakan terdahulu, sangat diperlukan dalam menetapkan kombinasi metode penyuluhan pertanian. Pertimbangan-pertimbangan ini akan menghasilkan pemilihan satu atau lebih metode penyuluhan. Apabila lebih dari satu metode penyuluhan yang tepilih, maka pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut:

a.   Pengulangan

Misalnya kursus tani I diulangi dengan kursus tani II dan seterusnya dengan materi berlanjut.

b.   Urutan

      Misalnya kursus tani diikuti karyawisata, perlombaan dan lain-lain.

c.    Kombinasi

Misalnya pada waktu demonstrasi usahatani sekaligus dilaksanakan lomba      antar peserta, dan publikasi hasil.

model penyuluhan di indonesia

MODEL PENYULUHAN YANG PERNAH DILAKSANAKAN DI INDONESIA

SISTIM KERJA LAKU

            Sistim kerja LAKU mulai dilaksanakan pada tahun 1979 yang diintrodusir oleh proyek NFCEP (National Food Crops Extension Project) atau proyek Penu\yuluhan Pertanian Tanaman Pangan Nasional, kemudian dilanjutkan oleh Proyek NAEP (National Agricultural Extension Project) atau proyek Penyuluhan Pertanian Nasional tahap I dan II sampai dengan 1992.

            Sistim kerja LAKU mempunyai organisasi hierarkhis penyuluhan pertanian yang jelas, dimana seorang PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) akan mengunjungi 16 Wikel (wilayah kelompok) secara teratur dan berkesinambungan dengan jadwal kunjungan dua minggu sekali. Dengan melakukan kunjungan ini seorang PPL diharapkan dapat melayani 20orang kontak tani dan petani maju. Selanjutnya setiap kontak tani dan petani maju dari setiap Wikel tersebut akan menyampaikan informasi yang diterimanya dari PPL kepada masing-masing 5 orang petani melalui kelompok domisili. Sehingga secara keseluruhan seorang PPL akan dapat melayani 1.600 keluarga tani.

            Selanjutnya PPL di WKBPP (Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian) sebanyak 10 – 20 orang akan di supervisi oleh seorang PPM (Penyuluh Pertanian Madya) Supervisor. Di samping tu di setiap BPP akan ada seorang PPM Programer yang tugasnya  menyusun programa Penyuluhan Pertanian WKBPP dan melaksanakan pelatihan PPL di BPP dua minggu sekali.

            Di setiap propinsi ada PPS (Penyuluh Pertanian Spesialis) yang akan menjadi manajer penyuluhan pertanian untuk wilayah propinsi. Dan di setiap Karesidenan ada seorang PPS yang menjadi manajer penyuluhan pertanian untuk wilayah karesidenan. Ia bertanggungjawab kepada PPS Provinsi.

            Di setiap kabupaten ada beberapa orang PPS sesuai dengan spesialisasi yang dominan di kabupaten tersebut, dan bertugas membantu memecahkan masalah petani yang tidak dapat dipecahkan oleh PPL. PPS kabupaten juga bertugas untuk melatih PPL dalam latihan dua minggu sekali di BPP sesuai dengan bidang keahliannya.

            Sistem kerja ini diberlakukan dengan SK Menteri Pertanian No. 240/Kpts/Um/4/1999 tanggal 2 April 1979.

Dengan adanya sistem kerja LAKU dirasakan bahwa pengelolaan penyuluhan pertanian dan pengembangan organisasi penyuluhan pertanian menjadi lebih baik.

Para petani merasa puas karena secara fisik petani merasakan dapat bertemu PPL secara teratur dua minggu sekali, pada hari yang telah sepakati. Dan mereka merasa mudah juga untuk bertemu penyuluh di luar jadwal pertemuan tersebut karena pada umumnya PPL tinggal di desa wilayah kerjanya. Sehingga dengan penerapan sistem ini terasa adanya peningkatan efektivitas penyuluhan pertanian terutama di areal irigasi. Secara nyata terlihat bahwa sistem kerja LAKU mampu menyumbang peningkatan produksi pangan pada saat itu.

Kelemahan pokok dari sistem ini adalah penyuluhan yang sentralistik (dari atas ke bawah) yang diberlakukan secara seragam di seluruh wilayah Indonesia, sehingga sering tidak sesuai dengan kondisi setempat, misalnya kondisi pedesaan di pulau Jawa akan berbeda dengan di Nusa Tenggara Timur atau Maluku. Di samping itu dengan sistem ini penyuluh pertanian dianggap hanya sebagai “tukang pos” yang bertugas mengalihkan pesan dari lembaga penelitian ke petani, sehingga mematikan inisiatif dan kreativitas mereka.

SEKOLAH  LAPANGAN

Sekolah lapangan mulai dilaksanakan pada tahun 1993 melalui proyek PHT (pengendalian hama terpadu) atau IPM (Integrated Pest Management) sampai tahun 1999.

Semenjak terjadi explosi hama wereng coklat di Indonesia pada tahun 1985 maka dikeluarkanlah Inpres Nomor 3 Tahun 1986 yang melarang penggunaan 57 jenis pestisida untuk padi sawah. Dan sebagai gantinya digunakan PHT sebagai strategi perlindungan tanaman untuk padi sawah, palawija dan sayuran. Oleh karena itu PHT perlu dimasyarakatkan agar petani menjadi ahli PHT di lahan usahanya masing-masing, melalui sekolah lapangan PHT (SL-PHT).

Sekolah lapangan PHT dilaksanakan dengan tujuan untuk memasyarakatkan PHT dengan pendekatan ekologis. Ada 4 prinsip yang harus dilakukan petani dalam melaksanakan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan yaitu : 1. Budidaya tanaman sehat, 2. Pemanfaatan musuh alami, 3. Pengamatan mingguan, dan 4. Petani ahli PHT.

Untuk memasyarakatkan PHT tersebut dilakukan pertemuan mingguan selama 1 musim pertanaman (biasanya 12 kali pertemuan) selama 4 jam. Pertemuan mingguan ini dilakukan di lahan usaha dengan urutan kegiatan : 1) pengamatan lahan, 2) diskusi kelompok hasil pengamatan, 3) menyusun laporan hasil pengamatan dalam bentuk gambar-gambar dan simbul, 4) presentasi pleno hasil kelompok, dan 5) penarikan kesimpulan tindakan yang akan diambil bersama oleh kelompok untuk waktu seminggu ke depan dalam rangka pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Pertemuan mingguan dipandu oleh tim yang terdiri dari PHP (pengamat hama dan penyakit tanaman) dan PPL. Teknik kepemanduan yang digunakan adalah penerapan dari teknik-teknik adragogi (pendidikan orang dewasa).

Ciri SL-PHT adalah : 1. Lahan usaha adalah sarana utama kegiatan belajar, 2. cara belajar lewat pengalaman, 3. pengkajian agro-ekosistem, 4. metode dan bahan bersifat praktis dan tepat guna, 5. kurikulum berdasarkan kebutuhan petani, dan 6. belajar selama satu musim.

Dengan SL-PHT selama satu musim ini diharapkan petani menjadi ahli PHT yaitu menerapkan prinsip-prinsip PHT dalam usaha taninya masing-masing dan mengajarkan kepada petani lain. Dengan demikian mereka melaksanakan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan.

SL-PHT dimulai dengan diadakannya TOT (Training of the Trainer) bagi PHP dan PPL sebagai tim pemandu. Lalu dilakukan SL-PHT oleh petugas (PHP dan PPL), kemudian SL-PHT oleh petani pemandu. Petani pemandu berasal dari alumni SL_PHT oleh petugas yang dipilih dan dipersiapkan khusus melalui TOT petani pemandu.

Pemasyarakatan PHT selanjutnya dilakukan melalui pengembangan komunitas yaitu dengan membentuk desa PHT yang kemudian diharapkan berkembang menjadi kecamatan PHT.

Proses penguatan juga dilakukan antara lain melalui pembentukan forum petani PHT, pembentukan asosiasi/paguyuban/organisasi petani PHT dan pembuatan media petani. Contoh berbagai forum petani PHT adalah musyawarah petani, seminar petani, pertemuan teknis petani, dan forum studi petani. Contoh berbagai media yang dibuat petani PHT adalah surat kabar, buletin, majalah dinding, leaflet dan poster.

Kelebihan dari model ini adalah pada proses kepemanduannya, yaitu petani dipandu untuk dapat belajar sendiri di alam yang nyata untuk menentukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi, dan mereka diharapkan mampu mengambil keputusan bersama tindakan apa yang harus mereka lakukan di hari-hari berikutnya dalam mengelola usahanya.

Kelemahannya adalah terjadinya proses kejenuhan dalam belajar, karena rutinisme pertemuan mingguan. Kelemahan kedua adalah belum mulusnya proses pembelajaran oleh team teaching sehingga sering hasilnya kurang efektif.

FMA ( FARMERS MANAGED ACTIVITIES)

FMA mulai dilaksanakan pada tahun 2000 melalui proyek DAFEP (Decentralized agricultural and forestry extension project) atau proyek penyuluhan pertanian dan kehutanan desentralisasi di 9 propinsi (16 kabupaten) lokasi proyek. Sampai saat ini proyek DAFEP tersebut masih berjalan.

Dengan FMA dapat digalang petani untuk membuat sendiri RK (Rencana Keluarga), RUK (Rencana Usaha Keluarga), RU kelompok dan RU desa melalui teknik PRA ( participatory rural appraisal). Setelah itu baru disusun RKPD (Rencana Kerja Penyuluhan Desa).

Rencana Keluarga (RK) adalah upaya untuk memutuskan apa yang mereka dapat lakukan dengan cara mengenal diri keluarga, latar belakang, jumlah keluarga, potensi yang dimiliki, mereka bisa apa dan mereka sudah biasa apa.

Rencana Usaha Keluarga (RUK) adalah rencana usaha yang disusun dengan cara melihat potensi yang dimiliki tadi, mereka mau mengembangkan usaha apa, misalnya beternak itik. Setelah diputuskan usaha yang akan dijalankan lalu dilakukan analisis usahanya sesuai potensi yang mereka miliki untuk memperkirakan besarnya pendapatan yang akan diperoleh.

Rencana Usaha Kelompok (RU kelompok) adalah penggabungan dari RUK tersebut di atas dan rencana usaha desa (RU desa) adalah kumpulan dari RU kelompok di desa tertentu.

Dari RU desa akan dapat dipilahkan masalah-masalah apa yang dapat mereka pecahkan sendiri, dan masalah apa yang pemecahannya memerlukan fasilitasi dari penyuluh pertanian. Berdasarkan maslah yang perlu dipecahkan dengan fasilitasi penyuluh pertanian tersebut kemudian disusun rencana kegiatan penyuluhan desa (RKPD). Waktu pertemuan penyuluh dan kelompok usaha tidak ditentukan perminggu sekali atau dua minggu sekali, tetapi sesuai dengan komitmen mereka.

Kelebihan dari model ini adalah partisipasi petani sangat besar. Mereka difasilitasi untuk dapat mengenali keluarga mereka sendiri, potensinya, lalu memutuskan usaha yang akan mereka lakukan. Mereka juga bebas memilih kelompok usaha dan menyusun RU kelompok yang selanjutnya akan menyusun Rencana Usaha Desa. Satu desa berpeluang besar untuk menonjolkan usaha yang paling diunggulkan (one village one product). Mereka juga bebas menentukan perlu tidaknya penyuluhan dan apabila diperlukan maka kegiatan penyuluhan akan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan dengan penyuluh pertanian.

Adapun kelemahan adalah tingkat kematangan (maturity level) petani kita tidak semuanya sudah memenuhi syarat untuk melakukan ini. Apabila petani belum matang maka hasilnya lebih banyak artificial yang dipaksakan bukannya alamiah, sehingga penyuluhan yang kita laksanakan tidak memecahkan masalah yang sebenarnya.       

ANALISIS KHALAYAK MTP

ANALISIS KHALAYAK

Sasaran penyuluhan pertanian, pada dasarnya adalah penerima manfaat atau beneficiaries pembangunan pertanian, yang terdiri dari individu atau kelompok masyarakat yang terlibat secara langsung  maupun tidak langsung  dalam kegiatan pembangunan pertanian.

Petani dalam hal ini adalah merupakan sasaran utama dari penyuluhan pertanian. Soejitno (1968) menyatakan bahwa, selaras dengan pengertiannya, yang menjadi sasaran penyuluhan pertanian terutama adalah  petani pengelola usahatani dan keluarganya, yaitu : bapak tani, Ibu tani , dan pemuda/i atau anak-anak petani.

Pernyataan seperti ini tidak dapat disangkal, sebab pelaksana utama budidaya usahatani agar memberikan produktivitas dan atau pendapatan/keuntungan adalah para petani dan keluarganya. Jadi yang harus diubah perilakunya dalam praktek-praktek usaha tani guna meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat terutama adalah petani dan keluarganya itu.

Sebagai sasaran utama, mereka harus menjadi pusat perhatian penyuluh pertanian, sebab mereka inilah yang secara bersama-sama selalu terlibat dalam pengambilan keputusan terakhir tentang segala sesuatu yang menyangkut : pemilihan komoditas, teknik bertanam, sarana produksi, pola usaha, dll yang akan diterapkan di dalam usaha tani.

Selaras dengan kedudukan mereka sebagai sasaran utama penyuluhan pertanian, karakteristik petani desa perlu mendapat perhatian khusus dari penyuluh.

Khusus yang berkaitan dengan karakteristik ekonomi, sejak lama dan hingga sekarang, masih sering kita jumpai adanya dua kutub pendapat yang menyatakan bahwa, di satu kutub termasuk “usaha tani sub-sisten” dengan ciri-ciri khusus yang ada pada umumnya sangat tidak responsif terhadap kegiatan penyuluhan (pembangunan), dan di kutub lain, “petani rasional” dengan ciri-ciri yang sangat responsif terhadap upaya penyuluhan (pembangunan).

Scott (1976), secara panjang lebar pernah mengungkapkan karakteristik “petani subsisten” yang pada dasarnya hanya mengutamakan selamat dan tidak mau melakukan perubahan-perubahan. Setiap alternatif perubahan selalu dipandangnya sebagai sesuatu yang mengandung “resiko” yang justru akan memperburuk keadaannya yang sudah buruk.

Perilaku seperti ini, antara lain disebabkan oleh:

1)     seringnya menghadapi kegagalan-kegagalan karena faktor alam,

2)     seringnya menghadapai kegagalan dari setiap upaya perbaikan nasib, karena ketidakmampuan mereka menghadapi kekuatan-kekuatan “struktur kekuasaan” (dari penguasa, pedagang, dll) di sekitarnya.

Pendapat Scot seperti itu, digambarkan lebih rinci oleh Dixon (1982) sebagai berikut:

1)     Tidak mudah percaya kepada orang lain, artinya setiap kali berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya (yang menawarkan alternatif perbaikan nasibnya) selalu dicurigai sebagai penipu yang justru bermaksud sebaliknya.

Perilaku seperti ini, disebabkan karena mereka sudah mengalami pengalaman kepahitan hidup karena eksploitasi orang luar yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi mereka sikap hidup “bertahan” dan tidak berbuat “macam-macam” adalah yang paling aman.

2)     Cukup dalam keterbatasan, artinya, lebih suka dengan apa adanya.  Upaya memperbaiki nasib dinilainya akan selalu memerlukan biaya tinggi. Di dalam masyarakat seperti ini, status sosial sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia mampu menolong/memberi kepada orang lain, sehngga mereka selalu hiduop dengan  berbagi-bagi kemiskinan (Geertz, 1963).

3)     Membenci kekuasaan pemerintah. Petani sub sisten umumnya tidak menyukai perilaku pemerintah yang sejak lama memerasnya (melalui pajak, upeti, dll). Sifat seperti ini berakibat pada tidak responsifnya terhadap setiap upaya pembangunan yang dirancang oleh pemerintahnya.

4)     Sifat kekeluargaan, dalam arti bahwa kepentingan/tujuan individu selalu dikalahkan oleh kepentingan keluarga/kerabat.  Perilaku ini disebabkan karena setiap menghadapi masalah keluargalah yang selalu datang menolong sehingga seorang petani tidak akan mengambil keputusan sendiri terhadap setiap inovasi sebelum semua keluarga/kerabat/masyarakatnya juga menerimanya.

5)     Tidak inovatif, artinya tidak mudah menerima perubahan. Perilaku seperti ini bersumber dari sifat : tidak mudah percaya orang luar, biasa hidup terbatas, tidak suka terhadap pemerintah, dan sifat kekeluargaan yang tinggi.

6)     Fatalistik, artinya sudah jemu dan tidak memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu  (demi perbaikan nasibnya). Perilaku seperti ini bersumber kepada seringnya menghadapi resiko, kegagalan, kemiskinan, dll.

7)     Aspirasinya terbatas. Sebagai kelanjutan dari sikap fatalistik petani subsisten menjadi terbatas aspirasinya untuk mampu memikirkan peluang-peluang perbaikan nasib atau upaya-upaya yang mungkin dapat dilakukannya untuk memperbaiki mutu hidup.

8)      Tidak mampu mengantisipasi masa depan. Akibat dari terbatasnya aspirasi dan fatalistik yang tinggi, petani sub sisten kurang dan jarang berpikir tentang masa depan, sehingga mereka pun tidak mampu mengantisipasi masa depannya.

9)     Dunianya sempit, artinya mereka tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang apa yang terjadi di luar masyarakatnya sendiri. Perilaku ini merupakan salah satu sebab mereka menjadi miskin informasi, dan tidak mampu berfikir tentang maslah yang sedang dihadapi, dan tidak banyak tahu tentang alternatif-alternatif perbaikan kehidupan. Yang pada akhirnya, menjadi kurang inovatif dan sulit menerima penyuluhan.

10) Kurang mampu berempati atau tidak mampu memahami apa yang dipikirkan orang lain. Keadaan seperti ini juga sebagai akibat dari dunianya yang sempit dan aspirasi yang terbatas.

Sifat seperti ini, juga merupakan salah satu sebab dari ketidakmampuan mereka untuk cepat dan mudah memahami materi penyuluhan yang disampaikan sehingga mereka juga menjadi lamban menerima penyuluhan.

11) Kurang kritis, Karena dunianya sempit, mereka menjadi kurang kritis dalam menanggapi setiap informasi yang disampaikan, bahkan tidak sering mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap upaya-upaya yang disuluhkan.

Berbeda dengan ciri-ciri petani sub sisten seperti yang dikemukakan oleh  Scott, Popkin (1961) justru mengemukakan bahwa petani itu (seperti juga anggota masyarakat lain ) juga rasional.

Dalam artian mereka selalu ingin memperbaiki nasibnya, dengan mencari dan memilih peluang-peluang yang mungkin dapat dilakukannya. Kalaupun mereka agak lamban menerima inovasi itu bukanlah karena fatalistik, tetapi mereka masih dalam tarap penilaian.

Tentang hal ini Mosher (1967) memberikan gambaran yang agak luas tentang “petani” yakni :

1. Petani sebagai manusia. Seperti manusia lain, petani juga rasional, memiliki harapan-harapan, keinginan-keinginan dan  kemauan untuk hidup lebih baik. Sebagai kepala keluarga ia juga ingin meningkat kesejahteraannya dan memperbaiki kehidupannya.

2. Petani sebagai juru tani, adalah petani yang melakukan kegiatan bertani, yang memiliki pengalaman dan telah belajar dari pengalamannya. Hasil belajarnya itu, tercermin dari kebioasaan-kebiasaan yang mereka terapkan dalam kegiatan bertani. Kebiasaan-kebiasaan itu ada yang mendukung penyuluhan tapi ada pula yang kurang mendukung kelancaran penyuluhan.

                  Kebiasaan yang mendukung misalnya : kebiasaan memperhatikan gejala-gejala alam untuk pedoman bertani, kebiasaan ingin tahu atau bertanya mengapa, kebiasaan menghitung jumlah pengeluaran dan penerimaan yang diperolehnya dan kebiasaan untuk meniru dan mencoba (trial and error) tentang segala sesuatu yang dinilainya sebagai peluang baru yang dapat meningkatkan produksinya.

      Sedangkan kebiasaan petani yang kurang mendukung penyuluhan adalah : tiak mudah percaya pada orang lain, dan memegang teguh adat istiadat.

3. Petani sebagai pengelola usahatani

                  Selain sebagai manusia dan juru tani, seorang petani umumnya juga pengelola atau manajer dari usahataninya.

     Berkaitan dengan itu, selama proses penyuluhan , perlu dipahami bahwa :

a)     Sebagai seorang pengelola (tunggal), petani tidak suka digurui orang lain, apalagi oleh orang luar yang dinilainya masih muda tidak punya pengalaman, dll.

b)     Unit usaha yang dikelolanya relatif kecil, sehingga mereka termasuk golongan ekonomi lemah, termasuk lemah dalam peralatan, pengetahuan, ketrampilan, bahkan semangat untuk maju pun lemah. Karena itu tidak mengherankan bila mereka agak lamban dalam mengadopsi inovasi. Bukan karena merka tidak mau tetapi karena seringkali merka merasa tidak memiliki kemampuan, baik kemampuan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengerjakannya, tetapi juga kemampuan ekonomi untuk membeayai penerapan inovasi.

c)      Usaha yang dikelolanya banyak menghadapi resiko dan ketidakpastian (musim dan harga jual)  sehingga untuk menerima inovasi harus melalui analisis yang matang terlebih dahulu supaya selalu lolos dari sekian banyak ketidakpastian tersebut.

d)     Karena sempitnya usaha seringkali ia terpaksa mencurahkan tenaga dan mengalokasikan sebagian waktunya untuk kegiatan non pertanian. Dalam kasus seperti ini analisis keunggulan (comparative advantage) dan biaya imbangan (opportunity cost) akan sangat mempengaruhi tingkat kecepatan penerimaan inovasi.

e)     Seringkali tidak ada batasan antara pengelolaan usahatani dan ekonomi rumah tangga. Sehingga modal usaha tani yang sudah kecil menjadi lebih kecil karena juga digunakan untuk rumah tangga. Keadaan seperti ini tentu juga akan sangat mempengaruhi pengambilan keputusan untuk menerapkan inovasi.

            

evaluasi CIPP

Model Evaluasi CIPP

Model evaluasi ialah model disain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap pembuatannya. Model-model ini dianggap model standar atau dapat dikatakan merek standar dari pembuatannya.

Stafflebeam (1969, 1971, 1983, Stufflebeam & Shinkfield 1985) adalah ahli yang mengusulkan pendekatan yang berorientasi kepada pe­megang keputusan (a decision oriented evaluation approach structured) untuk menolong administrator membuat keputusan. la merumuskan evaluasi sebagai "Suatu proses menggambarkan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan" (Stafflebeam 1973 hal. 127). Dia membuat pedoman kerja untuk melayani para manajer dan administrator menghadapi empat macam ke putusan pendidikan, membagi evaluasi-menjadi empat macam yaitu:

1.      Context Evaluation to serve planning decision. Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program.

2.      Input evaluation, structuring decision. Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan. Bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.

3.      Process Evaluation, to serve implementing decision. Evaluasi proses untuk membantu mengimplimentasikan keputusan. Sampai sejauh mana rencana telah diterapkan? Apa yang harus direvisi? Begitu per­tanyaan tersebut terjawab, prosedur dapat dimonitor, dikontrol dan diperbaiki.

4.      Product Evaluation, to serve recycling decision. Evaluasi produk untuk menolong keputusan selanjutnya. Apa hasil yang telah dicapai? apa yang dilakukan setelah program berjalan? Huruf pertama dari konteks evaluasi dijadikan ringkasan CIPP model ini terkenal dengan nama model CIPP oleh Stafflebeam.

Manfaat Madu

19 Manfaat Madu, dibawah ini beberapa manfaat madu bagi kita :

1. Kerontokan rambut

Orang yang mengalami kerontokan rambut atau kebotakan dapat memakai campuran minyak zaitun panas, 1 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayu manis sebelum mandi. Oleskan di kepala dan diamkan selama kira-kira 15 menit setelah itu baru dibasuh. Penelitian itu juga membuktikan ramuan yang didiamkan dikepala selama 5 menit pun tetap efektif.

2. Infeksi kandung kemih

Campurkan 2 sendok makan bubuk kayumanis dan 1 sendok teh madu ke dalam segelas air suam-suam kuku. Setelah itu diminum. Ramuan ini membunuh kuman-kuman dalam kandung kemih.

3. Sakit gigi

Buat campuran 1 sendok teh bubuk kayu manis dan 5 sendok teh madu.

4. Kolesterol

Kadar kolesterol darah dapat diturunkan dengan 2 sendok makan madu dan 3 sendok teh bubuk kayu manis yang dicampur dalam 16 ounce (16 kali 28 gram kira kira 1 pon = 454 gram) air teh. Ramuan ini dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah sampai 10 persen dalam 2 jam. Madu murni yang diminum sehari-hari meringankan gangguan kolesterol.

5. Pilek

Pilek ringan dan berat dapat disembuhkan dengan 1 sendok makan madu suam-suam kuku dan ¼ sendok teh bubuk kayu manis setiap hari selama 3 hari. Ramuan ini dapat menyembuhkan hampir semua batuk dan pilek kronis serta membersihkan sinus.

6. Mandul

Pengobatan Yunani dan Ayurveda telah menggunakan madu selama bertahun-tahun untuk memperkuat semen (air mani = sperma) para pria. Dua sendok makan madu yang diminum secara teratur sebelum tidur akan berefek menyuburkan. Wanita Jepang, Cina dan Asia Timur yang sulit hamil dan ingin memperkuat rahim, lazim mengkonsumsi bubuk kayu manis sejak berabad-abad lalu.

Wanita yang sulit hamil sebaiknya sesering mungkin mengoleskan madu dan sesendok teh bubuk kayu manis pada gusinya. Kayu manis akan bercampur dengan air ludah dan memasuki tubuh. Ada pasangan suami istri dari Maryland tidak memiliki keturunan selama 14 tahun dan nyaris putus asa. Ketika mengetahui khasiat kayu manis dan madu, mereka mengkonsumsi ramuan tersebut. Sang istri mulai mengandung dan melahirkan bayi kembar.

7. Sakit perut

Madu yang dicampur bubuk kayu manis dapat mengobati sakit perut. Juga dapat membersihkan perut, serta menyembuhkan bisul sampai ke akar-akarnya.

8. Kembung

Penelitian yang dilakukan di India dan Jepang menyatakan bahwa madu yang diminum bersama kayu manis dapat mengurangi gas dalam perut.

9. Bau napas

Satu sendok teh madu dan bubuk kayu manis yang dicampur dalam air panas dapat membuat nafas tetap segar sehari penuh. Orang Amerika Selatan biasa meminum ramuan tersebut di pagi hari.

10. Sakit kepala sinus

Minum campuran madu dan juice jeruk dapat menyembuhkan sakit kepala karena sinus.

11. Kelelahan

Studi terakhir menunjukkan bahwa kandungan gula dalam madu lebih bermanfaat daripada merugi-kan bagi tubuh. Warga usia lanjut yang mengkonsumsi madu dan bubuk kayu manis dengan ukur-an sama, terbukti lebih bugar dan fleksibel. Penelitian Dr. Milton membuktikan ½ sendok makan madu yang diminum bersama segelas air dan ditaburi bubuk kayu manis dapat meningkatkan vitali-tas tubuh dalam seminggu. Ramuan tersebut diminum setiap hari setelah menggosok gigi dan jam 3 sore pada saat vitalitas tubuh menurun.

12. Kanker

Riset terakhir di Jepang dan Australia menunjukan bahwa kanker perut dan tulang stadium lanjut dapat disembuhkan dengan madu dan kayu manis. Pasien cukup minum 1 sendok makan madu dengan 1 sendok teh bubuk kayu manis selama sebulan 3 kali sehari.

13. Kelebihan berat badan

Minum segelas air yang direbus bersama madu dan bubuk kayu manis setiap pagi ½ jam sebelum sarapan atau saat perut masih kosong. Bila dilakukan secara teratur dapat mengurangi berat badan, bahkan bagi orang yang sangat gemuk, minum ramuan ini secara teratur akan mencegah lemak terakumulasi dalam tubuh, meski tetap makan makanan kalori tinggi.

14. Influenza

Ilmuwan Spanyol telah membuktikan bahwa madu berisi kandungan alami yang membunuh kuman influenza dan menyembuhkan pasien dari flu. Maka minumlah madu ketika akan flu.

15. Jerawat

Oleskan 3 sendok makan madu dan 1 sendok teh bubuk kayu manis pada wajah sebelum tidur. Basuh keesokan harinya dengan air hangat. Bila dilakukan rutin setiap hari selama 2 minggu, akan menyembuhkan jerawat sampai ke akar-akarnya.

16. Infeksi kulit

Ambil 1 bagian madu dan 1 bagian bubuk kayu manis, oleskan pada bagian kulit yang sakit.

17. Mencegah penuaan

Teh yang dicampur madu dan bubuk kayu manis dan diminum tiap hari dapat mencegah penuaan. Ambil 4 sendok madu, 1 sendok bubuk kayu manis dan 3 cangkir air kemudian rebus seperti mem-buat teh. Minumlah sebanyak 4 kali sehari. Ramuan ini membuat kulit segar dan halus serta men-cegah penuaan. Harapan hidup juga bertambah

18. Arthritis (radang sendi / Encok)

Ambil 1 bagian madu dan 2 bagian air suam-suam kuku. Tambahkan 1 sendok teh kecil bubuk kayu manis. Campur madu, air suam-suam kuku dan bubuk kayu manis. Pijat ke bagian yang sakit secara perlahan. Rasa sakit akan berkurang dalam waktu 1-2 menit. Atau penderita arthritis dapat minum 1 cangkir air panas dengan 2 sendok madu dan 1 sendok teh kecil bubuk kayu manis setiap hari, pagi dan malam.

Bila diminum teratur, ramuan ini dapat mengobati penyakit arthritis kronis. Penelitian terakhir Copenhagen University menggunakan campuran 1 sendok makan madu dan ½ sendok teh bubuk kayu manis yang diberikan kepada pasien sebelum sarapan. Hasilnya dalam seminggu 73 dari 200 pasien yang diobati sembuh total. Kebanyakan pasien yang tidak dapat berjalan atau bergerak karena arthritis dapat berjalan tanpa rasa sakit.

19. Penyakit jantung

Oleskan madu dan bubuk kayu manis pada roti pada waktu sarapan setiap harinya. Madu dan kayu manis mengurangi kolesterol dalam pembuluh arteri, dan mengurangi resiko serangan jantung. Orang yang sudah terkena serangan jantung bila mengkonsumsi madu dan kayu manis setiap hari dapat terhindar dari serangan jantung kedua.

Konsumsi madu dan kayu manis secara teratur dapat memperlancar pernapasan dan memperkuat detak jantung. Panti Wredha (jompo) di Amerika dan Kanada, berhasil mengobati penghuninya yang memiliki gangguan pembuluh darah karena tersumbat, dan berkurang fleksibilitasnya karena usia, dengan ramuan tersebut.